Tadi pagi (4/8) saya harus berjuang untuk bangun jam 08:00, terlalu pagi untuk bisa bangun di jam itu mengingat di jam-jam sebelumnya, jam 00:00-04:00 saya harus keliling se-jawatimur guna membangunkan masyarakat untuk sahur…. (itung-itung barangkali ada rumah kosong) tapi saya tetap harus bangun mengingat hari sekarang ini adalah hari terahir untuk pengambilan KHS. yah.., hari terahir…, memang untuk mahasiswa yang PPL kebijakannya bisa di ambil tgl 3-4 agustus dan untuk perwalian bisa langsung ke kepala Akademik.
Jarak antara AKADEMIK dan tempat saya tidur (kantor SEMA) memang cukup jauh, hingga sebelum jam 08:00 saya sudah harus siap.
Sekitar jam 09:30 saya sampai di akademik, ternyata masih sepi dan mengharuskan saya untuk menunggu.. sekitar lebih dari setengah jam sudah berlalu., tapi di pelayanan tetap tidak ada makhluk penunggunya (pegawai red.) hati saya bertanya, kemana orang2 yg aku bayar..???
beberapa menit kemudian, sekretaris jurusan datang… lumayan ada yang nyapa dan menanyakan kepentingan saya, serentak sang sekretaris minta tolong untuk memanggilkan yang bertugas, tapi staf yang bertugas mungkin tidak pernah membaca pengumuman hingga dia menyalahkan saya dengan alasan pengambilan yang telat, tanpa tatapan apalagi senyuman pegawai yang bertugas tak ada hentinya berbicara dengan nada yang sedikit tinggi penuh emosi.., alasan kebijakan yang saya pakai pun tidak begitu di hiraukan dan bahkan dia menyalahkan saya krna saya mengambil kebijakan itu, ahh…. Siaapa yang sepantasnya untuk marah…??? Pasti bukan dia, tapi Allah., (Karena aq telat sholat subuh pagi tadi “gk nyambung.com”)
ternyata tanpa sadar saya juga emosi, sangking emosinya, saya sudah teringat manisnya es-tebu di pinggir jalan, dan nikmatnya makanan di warung2 kecil d belakang sana..
suasana sempat ramai………… bruntung ibu kepala akademik yang sudah mengenal saya datang, melihat saya sebagai atasan presiden RI masih berdiri kaku di luar, beliau meminta saya untuk masuk dan duduk…
ada 2 hal yg bisa saya petik dari cerita saya ini…
1. Ternyata pelayanan Akademik yang kurang memuaskan memang nyata.
2. Pejabat kecil banyak yang tidak tahu dengan pejabat yang lebih tinggi dari bos nya,.. hahahhaha
Kamis, 04 Agustus 2011
Mahasiswa Vz Akademik
Senin, 07 Februari 2011
Indonesia Malaysia
IAIN adalah kampus Islam terbesar di Indonesia, Tak heran jika kampus itu di kenal dan menjadi kampus impian ribuan orang dari berbagai kalangan atau profesi baik denagara sendiri ataupun di Negara tetangga, salah satunya adalah artis popular dari negeri kangguru “Siti Nur Harista” dia mendaftarkan dirinya di IAIN di SPMB gelombang pertama. Satu hari sebelum tes dia datang ke kampus untuk mencari ruangan tempatnya yang beralamatkan Fak Ushuluddin Gedung A lantai 2 no 3.
Sampai di jalan pinggir blok M, di bingung harus memilih jalan yang mana, mau bertanya tapi gak tahu bahasa Indonesia, mau pakai bahasanya sendiri dia Takut, mengingat Negara Malaysia sering Geger dengan Indonesia. Dan dia ingan IAIN adalah kampus Islam dan dia berpikir semua mahasiswanya bias berbahasa arab.
Akhirnya di berinesiatif untuk memakai bahasa itu walaupun bahasa arab yang dia ketahui hanya dari Ayat-ayat Al-Qur`an yang sering dia baca.
Siti Nur Harista menghampiri seorang mahasiswi asli Indonesia yang duduk melamun di blok M. yang beridentitas “Trisnaning Manoraha”.
Siti Nur Harista menghampiri Trisnaning Manoraha dengan senyuman.
Siti Nur Harista : Assalamualaikum..
Trisnaning Manoraha : Wa`alaikum salam
Siti Nur Harista : Ihdinash shirothol Ushuluddin…..!!!
Trisnaning Manoraha : Al-Ushuluddin, Mustaqiiim… (sambil menunjuk kearah timur)
Tanpa berterima kasih Siti Nur Harista langsung berjalan sepereti yang Trisnaning Manoraha tunjuk, tapi setalah melewati maqha dia kembali bingung dan memiih belok kanan menuju Rusunawa.
Trisnaning manoraha yang masih memperhatikannya dari blok M lang sung berteriak..
“Waladhdhoooooliiiin….. Mustaqiiiim..”
Siti Nurharista langsung Melihat Ke Arah timur, seketika itu juga Terlihat huruf-huruf besar yang udah berwarna aneh bertulisan Fak.Ushuluddin. dia langsung melambaikan tangannya ke trisnaning manoraha sembari berucap
“Al-hamdulillahi Robbil `Alamiiin…”



